Cloud Hosting Indonesia

Kisah Nabi Khidir yang Rela Dirinya Dijual Sebagai Budak



Kisah Nabi Khidir yang rela dirinya dijual karena tidak bisa memberikan sesuatu kepada seorang pria miskin.


Kala itu, Nabi Khidir sedang berjalan-jalan di tengah pasar Bani Israil, di sepanjang jalan ia menelusuri pasar tersebut.


Saat menelusuri pasar, Nabi Khidir pun bertemu dengan seorang pengemis, namun tidak mengenali sang nabi.


Pengemis itu lalu berkata kepada Nabi Khidir, "Sedekahlah kepada ku, semoga Allah SWT memberkahi mu",


"Atas nama Allah, sayangnya aku tidak punya sesuatu yang dapat aku berikan untukmu," jawab Nabi Khidir.


Mendapati jawaban tersebut, pengemis itu tetap merengek untuk meminta sesuatu dari orang yang berada di hadapannya.


"Aku memohon kepadamu wahai tuan atas nama Allah, aku melihat tanda tanda kebaikan di wajah tuan dan aku mengharapkan berkah dari tuan," rengek pengemis itu lagi.


"Maafkan aku," ujar Nabi Khidir yang memang dirinya tidak punya sesuatu.


Namun, untuk tidak mengecewakan pengemis yang memohon dengan nama Allah SWT itu, dirinya memiliki solusi.


"Aku tidak punya sesuatu yang dapat aku berikan kepadamu, kecuali engkau membawaku. Lalu engkau jual diriku ini," kata Nabi Khidir memberikan solusi.


Dengan tatapan tak percaya, si pengemis memastikan apakah orang yang di depannya ini rela dijual sebagai budak.


"Apakah engkau bersungguh-sungguh?," tanya pengemis itu.


"Benar, sesuai perkataanku tadi, kamu terus meminta dengan membawa-bawa nama tuhan yang mulia," jawab Nabi Khidir memastikan.


"Aku tidak enak hati untuk menolaknya. Jual saja aku ini," lanjut Nabi Khidir mengungkapan bahwa dirinya ikhlas dijual.


Pengemis itu lalu menawarkan Nabi Khidir untuk dijual sebagai budak kepada orang-orang.


Akhirnya, Nabi Khidir pun terjual dengan harga 400 dirham. Ia pun kemudian tinggal bersama majikan yang baru saja membelinya. 


Namun sayangnya pada jangka waktu yang lama, majikannya itu tidak menyuruh apapun kepada Nabi Khidir.


Hal ini pun mengundang tanya di benak Nabi Khidir. Beliau pun kemudian bertanya kepada majikannya, "kenapa engkau tidak mempekerjakanku? Padahal engkau membeli untuk mengambil manfaat dari diriku?".


"Aku tidak enak hati, engkau sudah tua. Aku merasa tidak enak membuat dirimu berat," jawab sang majikan yang tidak mengetahui bahwa budaknya merupakan seorang Nabi yang mulia.


"Tenang saja, tidak ada yang berat bagiku," ujar Nabi Khidir memastikan majikannya agar ada yang dilakukannya.


Dengan hati yang berat dan sekedar menguji kemampuan budak yang dibelinya, ia memerintahkan sesuatu kepada Nabi Khidir.


"Kalau begitu, pindahkanlah batu-batu ini," perintah sang majikan sembari menunjuk tumpukan batu-batu besar dan sangat banyak.


Sang majikan kemudian pergi meninggalkan Nabi Khidir untuk mengerjakan sebuah urusan.


Namun ketika ia kembali, alangkah terkejutnya dia, padahal belum 1 jam ditinggalkan.


Tapi, Batu-batu itu telah berpindah, padahal untuk memindahkan batu-batu itu, butuh lebih dari puluhan orang.


Sang majikan pun memuji budak barunya itu, meski sudah tua ternyata di luar prediksi budak itu sangat kuat dan bahkan mampu mengerjakan sesuatu yang belum tentu mampu dikerjakan orang lain.


Pada suatu ketika, sang majikan hendak bepergian. Dia meminta Nabi Khidir yang menjadi budaknya itu untuk menjaga rumahnya. 


Nabi Khidir pun tak enak hati untuk hanya tinggal dan tidak mengerjakan apa-apa, ia pun lantas meminta majikannya untuk memberikan perintah lain.


Lalu Nabi Khidir pun diminta menyelesaikan sebuah bangunan, sang majikan kemudian pergi.


Tanpa disangka-sangka, ketika sang majikan pulang, ia melihat bangunan yang telah berdiri dengan kokoh. 


Sang majikan semakin heran, bagaimana bisa orang tua ini menyelesaikan bangunan itu sendirian dengan begitu cepatnya.


Sang majikan kemudian bertanya, siapa sebenarnya budaknya itu?. "Aku hendak bertanya, sebenarnya bagaimana pekerjaan itu bisa begitu cepatnya serta siapakah gerangan anda ini?," tanya majikan yang penasaran.


Nabi Khidir menjawab, "Sebenarnya saya adalah Nabi Khidir," ujarnya dengan tenang.


Ia pun menjelaskan awal pertemuannya dengan seorang pengemis yang meminta-minta seraya membawa nama Tuhan.


Mendapat pengakuan itu, sang majikan tertunduk malu, bagaimana mungkin ia membeli seseorang yang dimuliakan.


"Untuk menebus kesalahan ku wahai Nabi, engkau bisa mengambil seluruh hartaku, atau engkau ingin kebebasan?," tanyanya dengan rasa penuh bersalah.


"Cukup merdekakan saja aku," jawab Nabi Khidir dengan senyuman.


Akhirnya, Nabi Khidir pun dimerdekakan dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Wallahualam.

Lebih baru Lebih lama

Classic Header

ads2

Cloud Hosting Indonesia