Sebuah kisah seorang pemuda yang dihukum karena memakan segigit apel yang bukanlah miliknya namun berujung indah pada akhirnya.
Dikisahkan, seorang pemuda yang akan melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu, ia mengembara hingga perutnya merasakan kelaparan.
Di suatu tempat, di sebuah sungai yang airnya jernih mengalir indah, ia menemukan sebuah apel yang ranum dan menggugah seleranya.
Tampaknya, apel tersebut terjatuh hingga dibawa air sungai dan akhirnya ditemukan oleh pemuda tersebut.
Seketika itu, sang pemuda meraih apel yang berputar-putar terbawa air sungai, lalu ia memakan apel tersebut.
Namun, pada gigitan pertama, sang pemuda ingat kepada Tuhannya, bahwa apel yang baru saja satu gigitan yang ia makan bukanlah miliknya.
"Astaghfirullah, ini bukan milik ku, aku harus mencari pemiliknya untuk meminta keikhlasannya atas satu gigitan apel ini," ujarnya dalam hati.
Seraya membawa apel yang sudah digigitnya, sang pemuda menelusuri sungai itu untuk menemukan pemiliknya.
Ia beranggapan bahwa pemilik apel tentu tak jauh dari pinggiran sungai yang sedang ia telusuri itu, dengan sembari menahan laparnya, ia tak henti-henti berjalan di tepian sungai.
Hingga pada akhirnya, pemuda tersebut melihat kebun apel yang sedang memasuki masa panen, tampak rindang dan elok dipandang.
Pemuda itu lantas mencari rumah pemilik kebun apel, tak lama mencari-cari, ia pun menemukannya dan mengetuk pintu rumah yang sederhana tersebut.
"Assalamu'alaikum," ujar pemuda tersebut yang lantas dijawab oleh pemilik rumah dari dalam.
Keluarlah dari rumah itu seorang pria yang sudah berumur 50an, lantas menanyakan keperluan pemuda tersebut.
"Ada apa wahai pemuda," tanya pria itu kepada pemuda.
Pemuda itu lantas menceritakan kejadian sebelumnya, yaitu menemukan sebuah apel dan baru memakannya satu gigitan.
Pemuda itupun lantas bertanya kepada pria tua itu, "Berapakah harga yang harus aku bayar agar engkau mengikhlaskan apel ini wahai pak tua?.
Dengan tersenyum, pria tua itu menggelengkan kepalanya seraya berkata "Engkau tak perlu membayarnya, tapi engkau harus bekerja di kebun ku selama 3 tahun, lalu aku akan mengikhlaskannya".
Kaget, pemuda itu tak terpikirkan akibat dari memakan sebuah apel yang bukan miliknya, bahkan itu baru satu gigitan, dan juga tanpa gaji, ini merupakan hukumannya.
Namun, apa boleh buat, pemuda itu tak ingin ada makanan haram di dalam perutnya yang akhirnya menyetujui permintaan pria tua tersebut.
"Baiklah, aku menyanggupinya," lirih pemuda itu.
Pemuda itu akhirnya bekerja dengan giat, bahkan saat ia bekerja, ia tak pernah memakan apel yang ia panen, yang dia lihat sehari-hari.
Hari berganti hari, bulanpun berganti bulan, sekian kali ia sudah memanen kebun pria tua itu hingga akhirnya genap 3 tahun.
Sang pemuda akhirnya mengungkapkan kegembiraannya serta berkata kepada pria tua itu, "Wahai pak tua, aku sudah melakukan permintaan mu, aku sudah bekerja di kebun mu selama 3 tahun, apakah engkau sudah mengikhlaskan apel yang sudah ku makan 3 tahun lalu?".
"Belum," jawab pria tua itu sambil tersenyum.
"Mengapa? apa yang harus aku lakukan agar engkau mengikhlaskan apel tersebut," tanya pemuda itu dengan tenang.
"Engkau harus menikahi putri ku," jawab pria tua itu.
Mendengar pernikahan, pemuda itu lantas senang seraya menyetujuinya.
"Tapi putri ku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh," kata pria itu menjelaskan.
Mendengar ciri-ciri anaknya, lantas pemuda itu sedikit bimbang, namun bagaimanapun, ia tak ingin ada yang haram dalam perutnya.
Dengan sedikit berat hati, ia pun menyanggupi permintaan terakhir pria tua itu.
Usai akad nikah yang sederhana, si pemuda dipersilahkan masuk ke kamar dimana istrinya sudah menunggu.
Dengan perasaan tertekan, pemuda itu pelan-pelan membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar yang ditunjuk oleh mertuanya seraya mengucapkan salam.
Namun, setelah masuk ke dalam, pria muda itu terkejut, ia melihat seorang gadis cantik nan elok, dengan rambut yang terurai dan indah.
Pemuda itu lantas menutup matanya seraya berbalik dan beristighfar, ia pun lari keluar mencari mertuanya.
Ia berkeringat, dosa apa lagi yang ia lakukan pikirnya, satu gigitan apel baru saja selesai, ia malah membuat dosa baru dengan melihat aurat seorang gadis.
Ketika akhirnya menjumpai pria tua yang kini menjadi mertuanya, "Ayah, siapa yang berada di dalam kamar?".
"Itu istri mu," jawab mertuanya dengan senyum dan tenang.
"Bagaimana bisa?, bukankah engkau mengatakan bahwa ia buta, tuli, bisu dan lumpuh?," tanya pemuda itu dengan jantung yang masih berdebar.
"Dia buta, buta dari segala pandangan yang dilarang Allah SWT, dia tuli, tuli dari segala pendengaran yang dilarang Allah SWT, dia bisu, bisu dari pembicaraan yang sia-sia, dan ia lumpuh karena tak pernah berjalan ke tempat maksiat," jelas mertuanya.
"Masuklah nak, dia istri mu," suruh mertuanya dengan senyum.
Ternyata, selama 3 tahun ini, pria tua itu selalu memperhatikan akhlak si pemuda itu, pemuda itu rajin beribadah, juga amanah dalam pekerjaannya.
Akhirnya, si pemuda itu, karena satu gigitan apel, karena ketakutannya dengan Tuhan, mendapatkan seorang wanita cantik lagi bagus akhlaknya.
Tak hanya itu, satu gigitan apel itu kini berubah menjadi satu kebun apel yang kini menjadi miliknya. Betapa besarnya karunia Allah SWT jika kita selaku bertakwa kepada-Nya.
Tulisan ini diambil dari beberapa referensi.